Cerita Margin Call dan kegagalan trading

Halo semuanya, selamat pagi, siang dan malam !!! Setelah sekian lama saya tidak mengupdate blog ini, akhirnya kali ini saya juga bisa mengupdate postingan blog ini.

Beberapa minggu terakhir ini saya telah merasakan dahsyatnya gejolak pasar dimana banyak pergerakan dapat dikatakan tidak terduga. Banyak pasangan yang sulit diprediksi karena 'kisaran' harian adalah penembusan yang signifikan.

Sejak merebaknya COVID-19, banyak pergerakan pasar yang tidak terduga, banyak candle shadow, dan juga banyak candle palsu. Saya yakin di tengah wabah ini, ada 2 jenis trader yang akan Anda temui, yaitu trader yang mengalami profit berkali-kali lipat dan trader yang mengalami kerugian berlipat ganda.

Cerita Margin Call dan kegagalan trading
Cerita Margin Call dan kegagalan trading


Jujur sendiri, saya mengalami sejumlah kerugian besar bahkan mengalami MC akun trading saya di beberapa broker sehingga bisa dibilang saya masuk kategori loss trader. 

Dari beberapa akun trading saya, saya mendapatkan rentetan kerugian dan juga mendapatkan MC. Btw kebanyakan akun yang ada di broker saldonya dibawah 100 USD, jadi mau tidak mau ketika saya mendapatkan loss besar beberapa kali (sering kena SL) maka secara psikologis saya terganggu dan langsung menghilangkan SL dan berujung ke MC. Bagi trader yang masih labil, yang namanya MC pasti sudah jadi makanannya. Ada pepatah kalau belum MC namanya belum jadi trader, btw sudah berapa kali kamu yang membaca postingan ini mengalami Margin Call?.


Jujur untuk saya sendiri mungkin sudah ada puluhan kali MC di beberapa broker yang berbeda dan saya akui juga jika kebanyakan akun saya yang MC hanya memiliki saldo dikisaran 100 USD.

Mungkin banyak trader profesional yang sudah bisa profit konsisten bilang jika minimal saldo yang direkomendasikan untuk trading adalah memiliki modal sekitar 1.000 USD atau lebih amannya yaitu 10.000 USD. Saya akui itu benar karena dana yang begitu banyak dengan MM yang bagus akan kuat menahan floating. Tetapi untuk modal berapapun jika MM dan psikologi trader rusak, tetap akan menjadi MC.


Sejujurnya, saya sendiri sampai saat ini memiliki faktor psikologis dan MM yang paling sulit dikendalikan. Dari beberapa riwayat akun trading saya yang terkena Margin Call, entah Anda percaya atau tidak bahwa sebagian besar winratenya berada di kisaran 50% -70%.

Itu artinya, jika saya menggunakan RR yang benar maka saya mendapat untung, tetapi yang saya alami adalah rugi karena apa ???

Ya, karena MM dan Psikologi saya hancur saat trading. Intinya jika transaksi profit buru-buru di close, sedangkan saat floating minus dibiarkan sampai MC.


Alasan saya menggunakan beberapa broker adalah agar bisa melihat kondisi trading dan bisa mereviewnya di blog ini. Selain itu saya mencoba trading sampai saat ini, saya belum bisa mengontrol psikologi. Saya sering mengalami kerugian ketika ingin cepat balik modal sehingga langsung hajar dengan lot besar.

Tapi anehnya kebanyakan lot gajah yang saya lakukan bukannya membalikkan modal tapi malah menjadikan MC dan rugi modal :(. Dan anehnya lagi itu sering saya lakukan hingga akhirnya berkali-kali lipat kerugian yang saya dapat. 

Btw yang menjadi misteri sampai saat ini, entah mengapa sering sekali memakai lot kecil profit terus, giliran saat percaya diri menggunakan lot besar langsung loss....zzz  Btw sebenarnya saya sudah punya rencana jika saya bisa mengendalikan emosi saya. Harapan kedepannya, saya hanya akan fokus pada satu akun - satu broker - dan menggunakan modal yang ideal dan membangun portfolio dalam satu akun trading tapi susah sekali. :)


Pengalaman saya mendapatkan MC pertama kali adalah ketika saya trading di broker XM dimana kesalahan pertama akibat MC karena tidak memasang STOP LOSS. MC pertama cukup masuk akal karena saya masih belum mengenal Forex dengan baik, bahkan input lot pun tidak paham, hanya tahunya asal bisa open posisi.

Kemudian setelah MC pertama saya mendapat MC kedua-ketiga dan seterusnya sampai dibeberapa broker yang berbeda. Btw saya sering sekali berganti-ganti broker setelah terkena MC. Alasan saya pindah broker setelah MC yaitu agar berharap bisa mendapatkan 'hoki' dibroker yang berbeda. Namun nyatanya sama saja. wkwk. Jadi bisa disimpulkan bukan brokernya tetapi tradernya yang bego wkwk.

Selama kita masih sering MC, maka trading dibroker manapun juga bakalan MC :(, itulah yang terjadi pada saya.

Btw, dari beberapa kali saya terkena MC, justru yang paling sering bukan di pair forex currency (mata uang), namun di pair Gold (XAUUSD). Ya, pair gold yang bisa dibilang pair yang sangat populer karena fluktuatifnya sehingga bisa cepat kaya dan cepat miskin dalam hitungan jam wkwk. Selain Emas, ada beberapa pair yang juga sering sekali membuat saya loss besar, yaitu saat memperdagangkan indeks dan komoditas, misalnya seperti trading di DE30, SP500, SP2000, serta Corn dan WTI/Brent Oil... WTF!


Jika di urutkan secara kronologis, ketika saya mendapat Margin Call, itu berawal dari langkah-langkah berikut ini:

  • Pertama, open lot trading sesuai dengan Money Management yang baik dan SL dan TP yang sesuai dengan planning manajemen yang baik.
  • Kalau mengenai TP, maka saya secara psikologis baik dan akan menutup posisi. Namun jika mengenai SL, maka saya secara psikologis agak tergoncang :)
  • Namun psikologi kemudian mulai tidak baik ketika sering kali harga menyentuh SL lalu baik ke TP, atau juga ketika harga belum mencapai TP tetapi sering beralih ke SL sehingga sehingga sering kali open posisi ABC (Asal Biru Close).
  • Psikologi mulai buruk ketika beberapa kali terkena SL, jadi saya mulai trading dengan emosi di mana saya sering sekali menghapus SL.
  • Karena SL dihapus maka pada titik ini saya biasanya mendapatkan MC.
  • Jika pada saat itu saya masih aman maka saya akan menggunakan berbagai cara seperti Averaging, Martingale, Locking atau Hedging. *
  • Setelah itu semakin parah, sehingga saya Open posisi nekat dengan lot besar, sehingga menjadi MC.
  • Saat menggunakan Locking / Hedging saya juga sering emosi dan sering salah melepaskan posisi, sehingga MC-pun terjadi.

* Btw hedging / locking sebenarnya bisa bermanfaat jika melepaskannya dengan baik tapi perlu diperhatikan jika saat hedging / locking kita butuh waktu untuk melepasnya. Namun apa yang terjadi pada saya dimana ketika ada posisi hedging / locking, saya benar-benar terganggu karena floating lama dan malas mengunggu sehingga mau tidak mau saya ceroboh saat melepaskannya.

Jadi intinya dari postingan ini adalah saya mendapat Margin Call karena Faktor Psikologis sehingga trading dengan menggunakan emosi dan melanggar aturan trading (terutama Money Management). Oke, sekian postingan ini. Terima kasih telah membaca poin perdagangan di blog ini :)

Belum ada Komentar untuk "Cerita Margin Call dan kegagalan trading"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel